Sebagai seorang salesmen , sudah tentu Anda merasa jantung berdebar lebih kencang saat melihat kalender dan menyadari akhir bulan sudah dekat? Atau mungkin timbul rasa cemas berlebihan ketika calon klien tiba-tiba sulit dihubungi, padahal Anda sangat butuh kesepakatan itu untuk menutup target?
Tenang, Anda tidak sendirian.
Stres adalah “makanan sehari-hari” di dunia sales. Bagi banyak orang, perasaan tertekan ini muncul karena satu hal: rasa kehilangan kendali.
Coba bayangkan situasi sederhana ini: Anda punya janji makan malam pukul 7 malam. Anda sudah siap, duduk menunggu di sofa. Namun, pasangan Anda masih bersiap-siap di kamar mandi. Jam menunjukkan pukul 6:48, padahal perjalanan butuh waktu 15 menit dan Anda masih harus menjemput teman. Anda tahu Anda akan terlambat.
Dalam situasi seperti itu, rasa cemas mulai muncul, badan mulai berkeringat, dan emosi jadi mudah tersulut. Sekarang, bayangkan perasaan itu dikalikan sepuluh. Itulah yang sering dirasakan seorang tenaga penjualan (sales) setiap harinya.
Lantas, bagaimana cara berdamai dengan tekanan ini agar tidak mengganggu kesehatan mental dan performa kerja? Berikut ulasannya.
Kenapa Pekerjaan Sales Sering Bikin Stres?
Banyak tenaga sales, baik yang baru maupun yang sudah berpengalaman, sering bertanya-tanya di tengah jalan: “Apakah pekerjaan ini benar-benar cocok untuk saya?”
Keraguan ini biasanya muncul saat penjualan sedang lesu. Pikiran negatif mulai menghantui:
- “Kalau klien ini batal beli, target saya tidak akan tercapai.”
- “Kenapa susah sekali menghubungi prospek ini?”
- “Nasib saya tergantung pada keputusan Customer ini”
Perasaan bahwa nasib Anda ditentukan oleh faktor eksternal inilah yang memicu kecemasan. Inilah alasan kenapa banyak orang akhirnya menyerah di dunia sales dan memilih pindah ke divisi lain yang dianggap lebih “aman” dan minim tekanan.
Padahal, stres dalam takaran yang pas sebenarnya bisa jadi hal positif untuk memacu adrenalin. Namun, jika stres itu membuat Anda hanya duduk diam dan overthinking di siang hari, itu tandanya sudah masuk tahap berbahaya.
Solusi Utama: Ambil Tanggung Jawab Penuh
Penulis menyimpulkan satu pelajaran penting setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia sales: Satu-satunya cara mengurangi stres adalah dengan mengambil kendali.
Ada sebuah prinsip menarik dari buku Extreme Ownership karya Jocko Willink. Intinya sederhana: miliki disiplin dan ambil tanggung jawab atas segala hal dalam hidup Anda. Berhenti mencari kambing hitam.
- Jangan menyalahkan tim pemasaran (marketing) karena leads yang masuk sedikit.
- Jangan menyalahkan rekan kerja yang terlihat “hoki”.
- Jangan menyalahkan situasi ekonomi atau musim liburan sebagai alasan target meleset.
Saat Anda menyalahkan keadaan, Anda memposisikan diri sebagai korban yang tidak berdaya. Inilah sumber stres terbesar.
Sebaliknya, cobalah berkata: “Target tidak tercapai, dan itu tanggung jawab saya. Apa yang bisa saya perbaiki?” Dengan pola pikir ini, Anda mengambil kembali kendali atas nasib Anda. Perasaan berdaya inilah yang akan menurunkan tingkat stres secara drastis.
Pahami Bahwa Sales Adalah Permainan Probabilitas
Penting untuk diingat bahwa di dunia penjualan, tidak ada kepastian 100%. Selalu ada risiko dan faktor di luar kendali kita.
Namun, kabar baiknya adalah Anda bisa mengubah probabilitas (kemungkinan) tersebut.
Alih-alih cemas memikirkan hasil akhir (closing atau tidak), fokuslah pada proses yang bisa Anda kendalikan:
- Melakukan follow-up dengan lebih tekun.
- Memberikan nilai tambah (value) yang lebih baik kepada calon klien.
- Mempelajari kompetitor dengan lebih jeli.
Dengan melakukan hal-hal tersebut, Anda sedang memperbesar peluang keberhasilan Anda.
Belajar dari Viktor Frankl: Kebebasan Memilih Respon
Ada pelajaran berharga dari Viktor Frankl, seorang psikolog yang selamat dari masa-masa kelam di kamp konsentrasi. Dalam bukunya Man’s Search for Meaning, ia mengajarkan bahwa manusia memiliki satu kebebasan mutlak: Kebebasan untuk memilih sikap dalam situasi apa pun.
Mungkin secara naluriah kita akan merasa takut atau panik saat target masih jauh (respon alami otak). Itu wajar. Tapi setelah rasa takut itu muncul, Anda punya pilihan.
Anda bisa memilih untuk tenggelam dalam kecemasan, atau memilih untuk bertindak. Ubahlah narasi di kepala Anda:
- Dari “Saya harus jualan supaya tidak dimarahi bos…”
- Menjadi “Saya memilih untuk bekerja keras karena saya ingin mencapai target saya.”
Kesimpulan
Mengatasi stres di dunia sales bukan berarti menghilangkan tekanan sepenuhnya, melainkan mengubah cara kita merespon tekanan tersebut.
Mulailah hari ini dengan berhenti membuat alasan. Terima bahwa ketidakpastian itu ada, lalu ambil tanggung jawab penuh atas apa yang bisa Anda kerjakan. Dengan begitu, Anda tidak hanya akan menjadi sales yang lebih tangguh, tetapi juga pribadi yang lebih bahagia.
Selamat bekerja dan semoga target bulan ini tercapai!
1 thought on “Mengatasi Rasa Takut Jualan: Ubah Mindset Bisnis Jadi Percaya Diri”