Ayah Ambil Rapor: Langkah Kecil, Dampak Besar bagi Mental Anak

Hari pembagian rapor selalu menghadirkan suasana yang khas di sekolah. Jika diamati sejenak, ada banyak cerita, ekspresi, dan harapan yang berkumpul dalam satu hari yang sama.

Coba bayangkan pemandangannya. Lorong-lorong sekolah dipenuhi antrean orang tua yang duduk menunggu giliran dipanggil guru. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, siapa yang paling mendominasi kursi-kursi itu? Hampir bisa dipastikan, sebagian besar adalah ibu-ibu.

Pemandangan ini sudah dianggap sangat lumrah di Indonesia. Urusan sekolah, urusan nilai, sampai urusan pertemuan wali murid, seringkali dianggap sebagai “wilayah kekuasaan” ibu. Ayah? Biasanya sedang bekerja keras di kantor atau di lapangan demi nafkah keluarga. Itu tugas mulia, tentu saja.

Namun, di balik kesibukan itu, ada satu hal penting yang perlahan kita lupakan: kehadiran sosok ayah secara fisik dan emosional di momen-momen penting anak.

Baru-baru ini, sebuah inisiatif hangat muncul dari BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Nama programnya sederhana namun menohok: Gerakan Ayah Mengambil Rapor.

Jakarta, sebagai ibu kota yang sibuk, diharapkan bisa menjadi teladan utama bagi gerakan ini. Tapi, mengapa sekadar mengambil rapor menjadi begitu penting hingga dijadikan sebuah gerakan nasional? Mari kita duduk sebentar dan merenung.

Indonesia dan Fenomena “Ayah Ada, Tapi Tiada”

Kamu mungkin pernah mendengar istilah fatherless. Ini bukan berarti seorang anak tidak memiliki ayah karena meninggal dunia atau bercerai. Fatherless atau father absence adalah kondisi di mana ayah ada secara fisik, masih satu rumah, tapi “hilang” secara emosional dan psikologis.

Prof. Dr. Susanto, seorang Guru Besar Universitas PTIQ Jakarta sekaligus mantan Ketua KPAI, menyoroti hal ini dengan serius. Menurut data yang beliau kutip dari Mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS Maret 2024, ada sekitar 15,9 juta anak di Indonesia yang berpotensi tumbuh tanpa pengasuhan ayah yang utuh. Bayangkan, itu setara dengan 20 persen dari total anak di negeri ini!

Artikel Populer  Mengatasi Rasa Takut Jualan: Ubah Mindset Bisnis Jadi Percaya Diri

Anak-anak ini mungkin melihat ayahnya setiap hari. Mereka melihat ayah pulang kerja, makan malam, lalu tidur. Tapi, tidak ada obrolan mendalam. Tidak ada diskusi soal mimpi-mimpi mereka. Tidak ada sosok yang hadir saat mereka butuh sandaran selain ibu.

Di era digital seperti sekarang, tantangan ini makin berat. Anak-anak kita lebih lekat dengan gawai (gadget) daripada dengan orang tuanya. Ketika ayah sibuk bekerja dan anak “diasuh” oleh internet, risiko masalah perilaku pun meningkat. Anak jadi mudah minder, kontrol dirinya rendah, suka lari dari masalah, dan mudah menyerah.

Inilah kenapa kehadiran ayah—sekecil apapun bentuknya—menjadi sangat krusial.

Angka yang Tak Pernah Mewakili Segalanya

Mungkin kamu bertanya, “Ah, cuma ambil rapor doang, apa ngaruhnya?”

Gerakan Ayah Mengambil Rapor sejatinya adalah pintu masuk. Ini adalah simbol keterlibatan. Saat seorang ayah meluangkan waktu di tengah jam kerjanya yang padat, datang ke sekolah, duduk berhadapan dengan guru, dan mendengarkan perkembangan anaknya, itu mengirimkan sinyal yang sangat kuat kepada si Kecil.

Anak akan merasa: “Aku penting bagi Ayah. Pendidikanku diperhatikan oleh Ayah. Ayah peduli padaku.”

Perasaan dihargai dan diperhatikan inilah yang membangun kepercayaan diri anak. Prof. Susanto menegaskan bahwa ayah bukan hanya sekadar penyedia nafkah. Ayah adalah sahabat, teman diskusi, pelindung, dan inspirasi.

Ketika ayah hadir mengambil rapor, itu membuka ruang diskusi baru. Sepulang sekolah, kamu bisa mengobrol santai dengan anak di kendaraan atau sambil makan bakso di pinggir jalan.

Obrolannya bukan tentang memarahi nilai merah, tapi tentang proses. “Gimana tadi di sekolah, Nak? Pelajaran apa yang paling bikin pusing? Apa yang bisa Ayah bantu biar kamu lebih semangat?”

Momen sederhana ini membangun kelekatan (bonding) yang mungkin selama ini hilang tertelan kesibukan.

Ayah dan Tekanan Hidup Perkotaan

Harus diakui, mempraktikkan hal ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, terutama bagi kamu yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Tuntutan pekerjaan seringkali tidak kenal kompromi. Izin setengah hari saja rasanya sulit sekali.

Artikel Populer  Mengapa Sibuk Tidak Sama dengan Produktif Menurut Konsep Slow Productivity

Prof. Susanto juga menyadari realitas ini. Di Jakarta, kesadaran ayah untuk terlibat dalam pengasuhan memang perlu ditingkatkan, tapi sistem pendukungnya juga harus siap.

Agar gerakan ini tidak berhenti sebagai jargon atau seremoni belaka, perlu ada kolaborasi nyata. Dunia kerja, baik instansi pemerintah maupun swasta, perlu memiliki kebijakan yang ramah keluarga. Misalnya, memberikan izin khusus bagi karyawan laki-laki untuk keperluan sekolah anak.

Tanpa dukungan dari tempat kerja, niat baik ayah seringkali terbentur aturan absensi. Kita berharap ke depannya, perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin sadar bahwa karyawan yang keluarganya bahagia, produktivitasnya justru akan meningkat.

Tips Sederhana Memulai Peran (Tanpa Menggurui)

Lalu, apa yang bisa kamu lakukan mulai sekarang? Jika kamu seorang ayah, atau kelak akan menjadi ayah, cobalah beberapa langkah kecil ini:

  1. Tandai Kalender: Cek kapan jadwal pembagian rapor atau pertemuan sekolah anak. Usahakan ajukan cuti atau izin beberapa jam dari jauh-jauh hari.
  2. Jangan Hanya Fokus pada Nilai: Saat melihat rapor, jangan langsung fokus pada angka matematika yang merah. Lihat juga catatan perilaku atau kelebihan lain anak. Apresiasi usahanya.
  3. Jadilah Pendengar: Saat bertemu guru, dengarkan baik-baik. Tanyakan bagaimana karakter anak saat di kelas, bukan cuma prestasi akademiknya.
  4. Bukan Hanya Saat Rapor: Jadikan ini pintu masuk. Terlibatlah dalam PR mereka sesekali, atau sekadar membacakan buku sebelum tidur.

Bagi pihak sekolah, Prof. Susanto menyarankan agar ada edukasi singkat untuk para ayah. Tidak semua ayah paham cara membaca rapor atau cara meresponsnya dengan bijak. Panduan singkat dari sekolah akan sangat membantu para ayah agar tidak “mati gaya” atau malah salah respon (misalnya malah memarahi anak di depan guru).

Membangun Generasi yang Tangguh

Pada akhirnya, Gerakan Ayah Mengambil Rapor adalah tentang masa depan anak-anak kita. Kita ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang paripurna, berkarakter unggul, dan tangguh menghadapi dunia.

Artikel Populer  Seni Diam yang Mematikan: Cara Elegan Menghadapi Orang yang Tidak Menghargai Anda

Kekosongan sosok ayah di hati anak tidak bisa digantikan oleh materi sebanyak apapun. Kehadiranmulaah yang mereka butuhkan. Sebuah tatapan bangga, tepukan di bahu, dan waktu yang kamu luangkan, adalah investasi terbaik untuk jiwa mereka.

Jadi, untuk pembagian rapor semester depan, sudah siapkah kamu meluangkan waktu untuk hadir di sana? Yuk, jadikan momen itu sebagai titik balik kedekatan kamu dan buah hati.

Karena ayah yang hebat bukan hanya yang bekerja keras untuk masa depan anak, tapi ayah yang “hadir” di setiap proses tumbuh kembang mereka.

Sumber Berita : Jakarta harus bisa jadi teladan Gerakan Ayah Mengambil Rapor

izy

2 thoughts on “Mengapa Sibuk Tidak Sama dengan Produktif Menurut Konsep Slow Productivity”

Leave a Comment