Kenapa Sesuatu Bisa Viral? 6 Rahasia Strategi Marketing

Kamu pasti sering heran dan bertanya-tanya, kenapa sesuatu bisa viral di Indonesia? Kenapa sebuah thread horor di Twitter bisa jadi film terlaris sepanjang masa? Atau kenapa setiap kali hujan turun, linimasa media sosialmu penuh dengan foto mie instan?

Viralitas bukan sekadar faktor keberuntungan atau “jalur langit”. Menurut Jonah Berger, pakar pemasaran dari Wharton School, ada pola psikologis tertentu yang memicu orang untuk membagikan konten. Ia merumuskannya dalam 6 prinsip :

  1. Social Currency (Mata Uang Sosial)
  2. Triggers (Pemicu)
  3. Emotion (Emosi)
  4. Public (Terlihat Umum)
  5. Practical Value (Nilai Praktis)
  6. Stories (Cerita)

Mari kita bedah keenam rahasia ini menggunakan contoh kasus yang paling sering terjadi di Indonesia.

Apa Itu Social Currency dan Contohnya di Indonesia?

Social Currency adalah prinsip bahwa orang suka membagikan hal-hal yang membuat mereka terlihat “lebih” di mata orang lain—lebih keren, lebih kaya, atau lebih up-to-date.

Di Indonesia, kita sering menyebut ini sebagai ajang “pamer tipis-tipis” atau FOMO (Fear of Missing Out). Kita membagikan sesuatu bukan hanya karena barangnya bagus, tapi karena membagikannya menaikkan status sosial kita.

Contoh Kasus: Tren Makanan “Sultan” & Cafe Hidden Gem

Ingat tren konten Sisca Kohl yang membuat nasi goreng seharga ratusan juta? Atau tren berburu Cromboloni dan Tiramisu viral yang antrenya berjam-jam?

  • Jika kamu beli gorengan pinggir jalan seharga Rp2.000, kamu mungkin jarang mempostingnya di Instagram Story.
  • Tapi, jika kamu berhasil mendapatkan kue viral yang antrenya 2 jam, atau makan di restoran Omakase mahal di Jakarta Selatan, kamu pasti ingin membagikannya.
Artikel Populer  Psikologi Warna: Cara Memilih Kombinasi Warna yang Memikat Customer

Kenapa? Karena foto itu memberi sinyal kepada teman-temanmu: “Aku orangnya kekinian, aku punya usaha lebih, dan aku mampu membelinya.” Inilah Social Currency. Kontenmu menjadi alat untuk membangun citra diri.

Bagaimana Triggers (Pemicu) Bekerja di Otak Netizen?

Triggers adalah pemicu lingkungan yang membuat orang teringat pada produkmu secara otomatis. Prinsipnya sederhana: Top of mind, tip of tongue. Apa yang sering diingat, itulah yang akan dibicarakan.

Strategi marketing terbaik adalah yang berhasil “membajak” kebiasaan atau momen sehari-hari masyarakat Indonesia.

Contoh Kasus: Sirup Marjan & Indomie

  • Sirup Marjan: Iklan sirup ini sebenarnya ada sepanjang tahun. Tapi, kenapa penjualannya meledak menjelang Ramadan? Karena mereka berhasil menjadikan “Bulan Puasa” sebagai pemicu (trigger). Begitu kamu melihat iklan Marjan bersambung di TV, otakmu otomatis berpikir: “Wah, bentar lagi Puasa/Lebaran.”
  • Indomie Rebus & Hujan: Tanpa perlu iklan yang mahal, Indomie sudah menanamkan pemicu yang kuat. Begitu hujan turun dan udara dingin, mayoritas orang Indonesia otomatis membayangkan mie rebus hangat. Hujan adalah trigger-nya, Indomie adalah responsnya.

Jika produkmu bisa “menempel” pada aktivitas rutin (seperti macet, hujan, atau tanggal tua), produkmu akan selalu diingat.

Mengapa Emosi Sangat Memengaruhi Viralitas?

Prinsip ketiga adalah Emotion. Konten yang memancing emosi kuat jauh lebih mungkin dibagikan daripada konten yang datar. Di Indonesia, ada dua jenis emosi yang paling cepat menyebar: Rasa Bangga (Indo Pride) dan Amarah Netizen.

Contoh Kasus: Putri Ariani & Kasus Viral Kriminal

  • Emosi Positif (Kekaguman): Saat Putri Ariani mendapatkan Golden Buzzer di America’s Got Talent, video itu dibagikan jutaan kali dalam hitungan jam. Mengapa? Karena ada rasa bangga yang membuncah sebagai bangsa Indonesia. Kita ingin berbagi rasa “merinding” itu ke orang lain.
  • Emosi Negatif (Amarah): Di sisi lain, konten tentang ketidakadilan hukum sering viral dengan tagar #PercumaLaporPolisi atau #ViralNoJustice. Rasa marah membuat jempol netizen bergerak cepat untuk menyebarkan berita agar pelakunya segera ditangkap.

Tips: Hindari konten yang hanya memicu kesedihan pasif (membuat lesu). Orang Indonesia suka konten yang membakar semangat atau menyentuh hati.

Artikel Populer  7 Buku Sales Marketing Terbaik 2025: Wajib Baca untuk Upgrade Diri

Seberapa Penting Faktor ‘Public’ (Social Proof)?

Prinsip Public berarti “semakin terlihat, semakin ditiru”. Manusia adalah makhluk peniru. Jika kita melihat banyak orang menggunakan sesuatu, kita berasumsi hal itu bagus dan ingin ikut menggunakannya.

Di Indonesia, perilaku “latah” atau ikut-ikutan tren sangat kuat. Produk harus terlihat mencolok di ruang publik agar menjadi viral.

Contoh Kasus: iPhone Boba & Mixue

  • Kamera “Boba” iPhone: Perhatikan tren Mirror Selfie anak muda Indonesia. Mereka sering berfoto menghadap cermin dengan sengaja memperlihatkan bagian belakang HP. Desain kamera iPhone yang khas (boba 3) menjadi simbol status yang sangat terlihat (Public). Orang lain yang melihat jadi ingin punya juga.
  • Invasi Mixue: Kenapa Mixue cepat sekali populer? Karena gerainya ada di mana-mana, di setiap pengkolan jalan (sering dijuluki “Malaikat Pencabut Ruko”). Logo dan lagunya yang berisik membuat merek ini sangat visible. Karena semua orang terlihat membelinya, orang yang belum coba jadi penasaran: “Kok rame terus ya? Cobain ah.”

Apa yang Dimaksud dengan Practical Value?

Orang Indonesia sangat suka berbagi informasi yang bermanfaat, tips hemat, atau trik kehidupan (life hacks). Ini adalah prinsip Practical Value.

Kita membagikan konten ini karena didasari niat baik untuk menolong teman atau keluarga.

Contoh Kasus: Resep “Anti-Gagal” & Tips Lolos CPNS

  • Video Masak Chef Devina Hermawan: Videonya sering viral di grup WhatsApp ibu-ibu atau Twitter. Kenapa? Karena resepnya diklaim “anti-gagal” dan praktis. Membagikan video ini terasa seperti memberikan solusi makan enak ke orang lain.
  • Thread Tips Lolos CPNS/BUMN: Setiap musim seleksi CPNS, konten berisi trik menjawab soal atau bocoran materi pasti viral. Ini memiliki nilai praktis yang sangat tinggi bagi jutaan pejuang NIP di Indonesia.

Jika kontenmu bisa menghemat uang, waktu, atau tenaga orang lain, konten itu pasti akan dibagikan.

Bagaimana Kekuatan Stories (Cerita) Menggerakkan Pasar?

Faktor terakhir adalah Stories. Orang Indonesia tidak suka digurui dengan data atau spesifikasi teknis yang rumit. Kita lebih suka mendengarkan cerita, gosip, atau drama.

Artikel Populer  Ramadan 2026: Strategi Ampuh Meningkatkan Closing dan Omzet

Produkmu harus menjadi bagian dari cerita yang menarik, bukan sekadar tempelan iklan.

Contoh Kasus: KKN di Desa Penari

Ini adalah contoh terbaik dari kekuatan Stories. Sebelum menjadi film terlaris, ini hanyalah sebuah utas (thread) tulisan di Twitter oleh akun SimpleMan.

  • Ceritanya misterius, mencekam, dan terasa nyata (“Based on True Story”).
  • Orang membagikannya bukan karena dibayar, tapi karena ceritanya seru untuk dibahas.
  • Produk (buku/film) lahir setelah ceritanya viral.

Bandingkan dengan iklan yang hanya berteriak “Beli produk kami, diskon 50%!”. Orang akan skip. Tapi jika kamu membungkus produkmu dalam cerita yang menyentuh hati (seperti iklan Ramadan edisi mudik) atau drama yang lucu (seperti video marketing owner UMKM di TikTok yang sering berdrama dengan karyawan), orang akan menontonnya sampai habis.

Kesimpulan: Mulai dari Mana?

Jadi, jika kamu ingin konten atau bisnismu viral di Indonesia, cobalah aplikasikan salah satu dari prinsip STEPPS ini:

  1. Social Currency: Bikin audiensmu merasa keren saat membagikannya (contoh: tempat instagramable).
  2. Triggers: Kaitkan dengan momen lokal (contoh: hujan, macet, tanggal tua).
  3. Emotion: Sentuh rasa bangga atau empati mereka (contoh: aksi sosial).
  4. Public: Pastikan produkmu mudah dikenali saat dipakai orang lain.
  5. Practical Value: Berikan tips yang benar-benar berguna (contoh: tips hemat).
  6. Stories: Bungkus promosi dalam cerita yang asik, bukan sekadar jualan hard selling.

Ingat, kamu tidak perlu menggunakan keenamnya sekaligus. Pilih satu yang paling cocok dengan karakter brand kamu, dan konsistenlah.

izy

Leave a Comment