Pernahkah kamu merasa ragu menekan tombol “kirim” pada pesan wa penawaran atau email marketing pertamamu? Atau mungkin kamu merasa terjebak mengejar satu calon klien (prospek) berbulan-bulan tanpa kepastian, tapi takut untuk melepaskannya?
Dunia penjualan dan pemasaran adalah tentang inisiatif. Dalam konteks marketing, filosofi Seth Godin mengajarkan kita untuk berani meluncurkan kampanye yang tidak sempurna (Starting), menjaga rutinitas follow-up tanpa baper (Sticking), dan tahu kapan harus memecat prospek yang tidak menghasilkan (Quitting).
Artikel ini akan membahas bagaimana menerapkan pola pikir ini agar target penjualanmu tercapai tanpa mengorbankan kewarasan mental.
Apa Itu “The Art of Starting” dalam Penjualan?
Dalam sales dan marketing, “memulai” bukan hanya tentang membuka bisnis, tapi tentang keberanian melakukan inisiatif terkecil (micro-initiatives) untuk menjangkau pasar.
Seringkali marketer terjebak dalam perencanaan yang berlebihan (analysis paralysis). Mereka menunggu data sempurna sebelum meluncurkan iklan, atau menunggu skrip sempurna sebelum menelepon klien. Menurut Seth Godin, ini kesalahan fatal.
Langkah strategis untuk memulai adalah:
- Luncurkan Versi Kasar (Shipped is better than perfect): Jangan menunggu landing page websitemu sempurna 100%. Luncurkan sekarang, perbaiki sambil jalan berdasarkan data pengunjung.
- Cari “Smallest Viable Market“: Jangan mencoba menjual ke “semua orang di Indonesia”. Itu mustahil. Mulailah dengan menargetkan satu komunitas kecil atau 10 orang spesifik yang benar-benar butuh solusimu.
- Cara Menguji Pasar Agar Bisnis Dikenal (Poke the Market) – Jangan hanya diam menunggu! Uji efektivitas iklan dengan metode A/B testing, perbarui judul penawaran yang lebih menarik, atau coba strategi cold calling baru untuk melihat bagaimana pasar merespons bisnis Anda
Contohnya : Seorang agen properti pemula tidak perlu menunggu punya database ribuan orang. Cukup mulai dengan menghubungi 5 teman terdekat dan tawarkan bantuan konsultasi properti gratis. Itu adalah “Start”.
Mengapa Sales & Marketer Sering Ragu Memulai?
Hambatan terbesar seorang tenaga penjual bukanlah produk yang jelek, melainkan ketakutan dianggap mengganggu (spammy).
Psikologi di balik keraguan ini meliputi:
- Sindrom Penipu (Imposter Syndrome): “Siapa saya kok berani menawarkan solusi ini ke perusahaan besar?”
- Takut Ditolak: Sales adalah profesi dengan tingkat penolakan tertinggi. Rasa takut mendengar kata “Tidak” membuat banyak marketer enggan melakukan inisiatif baru.
- Takut Dianggap “Hustler” Jahat: Kita sering melihat penjual yang agresif dan memaksa. Kita takut menjadi seperti mereka.
Solusinya: Ubah pola pikirmu. Marketing bukanlah tentang memanfaatkan konsumen untuk keuntungan semata. Sejatinya, ini tentang memberikan kunci solusi untuk problem yang mereka hadapi. Jika Anda percaya produk Anda benar-benar membantu, maka tidak menawarkannya justru bersikap egois—karena berarti Anda membiarkan orang lain tetap terjebak dalam kesulitan mereka.
Bagaimana Menjaga Konsistensi Saat Follow-up?
Dalam marketing, konsistensi adalah prioritas. Jarang sekali penjualan terjadi pada kontak pertama. Uang ada dalam follow-up.
Seth Godin menggunakan analogi Menyikat Gigi yang sangat relevan untuk activity sales:
- Kamu tidak menyikat gigi hanya saat ingin pergi ke dokter gigi. Kamu melakukannya setiap hari.
- Sama halnya dengan content marketing atau prospecting. Kamu tidak melakukannya hanya saat butuh omzet (panic selling). Kamu melakukannya sebagai rutinitas harian.
Tips Praktis Konsistensi Sales:
- Sistem > Motivasi: Jangan mengandalkan mood untuk jualan. Bangun sistem. Misalnya: “Setiap jam 9 pagi saya akan menghubungi 3 prospek lama.”
- Janji Brand (Brand Promise): Jika kamu berjanji pada audiens akan live Instagram setiap Jumat, lakukanlah meski yang menonton hanya 2 orang. Itu membangun kepercayaan.
- Jangan Baper: Jika hari ini tidak ada yang beli, itu bukan berarti kamu gagal total. Itu seperti lupa sikat gigi semalam; cukup sikat gigi lagi besok pagi. Jangan berhenti total.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Berhenti ?
Di sinilah banyak marketer salah langkah. Mereka terus membuang biaya iklan (boncos) pada audiens yang salah, atau terus mengejar klien yang jelas-jelas tidak punya anggaran, hanya karena “sayang sudah pendekatan lama”.
Berhenti (Quitting) dalam sales adalah strategi efisiensi, bukan tanda menyerah. Kamu harus membedakan antara “Jalan Buntu” dan “Tanjakan Terjal”.
Tanda Kamu Harus Melepas Prospek/Strategi (Strategic Quitting):
- Klien “Cul-de-sac” (Jalan Buntu): Klien yang banyak menuntut, minta diskon besar, tapi tidak pernah closing dan menguras energimu. Pecat klien ini (secara halus) agar kamu bisa fokus ke klien yang lebih potensial.
- Biaya Iklan Tidak Masuk Akal: Jika CPA (Cost Per Acquisition) sudah lebih tinggi dari profit margin dan tidak membaik setelah optimasi, berhentilah. Pindahkan budget ke saluran lain.
- Produk Tidak Fit: Kamu sudah mencoba berbagai angle marketing tapi pasar tidak merespons. Mungkin bukan marketingnya yang salah, tapi produknya yang harus “dihentikan” atau diubah total.
Tanda Kamu HANYA Sedang Menyerah :
- Berhenti menelepon prospek hanya karena dia bilang “nanti saya kabari” (ini adalah The Dip atau tantangan, bukan jalan buntu).
- Berhenti membuat konten TikTok karena views-nya sedikit di bulan pertama.
- Berhenti jualan karena satu komplain pelanggan yang menyakitkan hati.
Refleksi Strategis: Seorang Sales Manager yang cerdas akan berkata: “Tim, kita hentikan pendekatan ke industri otomotif karena siklus penjualannya terlalu lama (Strategic Quitting). Mulai besok, kita alihkan semua tenaga untuk penetrasi ke industri F&B yang lebih cepat perputarannya.”
Kesimpulan: Petanya Ada di Data, Bukan di Perasaan
Dalam dunia marketing dan sales, tidak ada jaminan bahwa satu strategi akan berhasil selamanya. Algoritma berubah, perilaku konsumen berubah.
Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan terus “Uji Pasar dengan Testing dan Eksperimen” (Poke the Box).
- Mulai: Luncurkan kampanyenya.
- Pantau: Apakah ada respon?
- Keputusan: Lanjut dengan konsisten (Stick) atau ubah strategi (Quit)?
Jangan biarkan ketakutan akan penolakan membuatmu diam di tempat. Biaya terbesar dalam marketing bukanlah biaya iklan yang rugi, melainkan biaya peluang yang hilang karena kamu tidak berani menawarkan produkmu.
kamu sudah siap untuk menghubungi prospek pertamamu hari ini?
Sumber Referensi:
Sumber & Inspirasi: Artikel ini diadaptasi dari panduan ‘A Guide to Starting & Quitting with Seth Godin’ oleh Blessing Abeng, yang telah disesuaikan dengan perspektif dan aplikasi marketing praktis.
1 thought on “10 Trik Pemasaran yang Efektif Tingkatkan Penjualan”