Pernah dengar cerita orang tua zaman dulu yang dapat hadiah jam tangan emas atau pesangon jumbo karena sudah mengabdi 25 tahun di satu perusahaan?
Itu cara klasik perusahaan bilang “terima kasih”. Tapi, mari kita bicara jujur. Di Indonesia zaman now, tradisi itu sudah hampir punah, bahkan tidak ada lagi.
Sekarang, coba lihat sekeliling kamu. Berapa banyak teman kerjamu yang bertahan di satu kantor lebih dari 10 tahun? Pasti sedikit banget, kan?
Kalaupun ada, biasanya mereka adalah angkatan tua yang sebentar lagi pensiun.
Realitanya, bagi generasi Milenial dan Gen Z di Indonesia, rata-rata bertahan di satu kantor itu cuma sekitar 2 sampai 4 tahun. Bahkan, ada studi yang bilang kalau kamu terlalu setia di satu perusahaan lebih dari dua tahun, rata-rata gaji kamu justru 50% lebih rendah dibandingkan mereka yang berani pindah-pindah kerja (job hopping).
Angka 50% itu bukan main-main. Di Indonesia, kenaikan gaji tahunan seringkali cuma sebatas penyesuaian inflasi atau kenaikan UMP semata. Kalau kamu diam saja, daya beli kamu sebenarnya turun.
Lalu, kenapa perusahaan seolah “tutup mata” sama loyalitas karyawan lama?
Kenapa Perusahaan Tidak Lagi Menghargai Loyalitas?
Secara logika, harusnya perusahaan rugi dong kalau karyawan keluar-masuk? Mereka harus keluar uang buat pasang iklan di LinkedIn atau JobStreet, interview, dan training anak baru lagi, ini melelahkan.
Tapi kenyataannya, perusahaan punya alasan kenapa mereka lebih suka merekrut orang baru daripada menaikkan gaji kamu secara signifikan:
1. Membludaknya Fresh Graduate
Di Indonesia, lulusan sarjana itu melimpah ruah. Kampus wisuda tiap tahun, ribuan fresh graduate siap kerja.
Bagi perusahaan, ini surga. Karyawan muda biasanya bisa dibayar lebih murah (“lulusan baru” atau standar UMR), energinya masih full, dan—pahitnya—mereka seringkali lebih rela lembur sampai malam demi pembuktian diri dibanding karyawan senior yang sudah berkeluarga.
2. Budaya “Batu Loncatan”
Lihat saja perusahaan konsultan besar atau agency di Jakarta Selatan. Turnover atau keluar-masuk karyawannya sangat tinggi.
Apakah perusahaan rugi? Tidak juga. Mereka dapat tenaga kerja murah yang pintar dan pekerja keras. Di sisi lain, si karyawan rela “menderita” dan bergadang selama 1-2 tahun demi nama perusahaan besar di CV mereka.
Sistem ini sudah terbentuk: Perusahaan dapat kerja kerasmu, kamu dapat nama bergengsi buat pindah ke tempat lain dengan gaji lebih tinggi. Sama-sama mengerti saja.
3. Karier Jalan di Tempat
Bayangkan kalau perusahaan cuma mempromosikan orang dalam. Manajer pensiun, staf senior naik, staf junior naik. Kedengarannya bagus, kan?
Masalahnya, kalau satu orang di atas “kurang perform”, satu divisi bisa macet. Lebih gampang bagi perusahaan untuk “bajak” manajer dari perusahaan kompetitor. Karyawan baru ini biasanya bawa ilmu baru, rahasia dapur kompetitor, dan energi baru. Perusahaan untung, tapi karyawan lama yang berharap promosi jadi gigit jari.
4. Tugas yang Makin Standar (Semua Bisa Digantikan)
Dulu, posisi seperti Kepala Cabang Bank itu sangat sakral. Dia yang nentuin siapa boleh pinjam duit. Sekarang? Semua by sistem. Aplikasi pinjaman online dan AI sudah perlahan mengambil alih pekerjaan ini.
Pekerjaan zaman sekarang banyak dibantu tools canggih. “Pernah pakai software akuntansi ini? Oke, kamu diterima. Langsung kerja besok ya.” Keahlian menjadi lebih mudah dipelajari, artinya kamu makin mudah digantikan.
Jadi, Apa yang Harus Kamu Lakukan?
Kalau artikel ini terdengar menyedihkan atau bikin pesimis, jangan salah sangka. Tujuannya justru biar kamu melihat realita.
Mimpi kerja tenang di satu tempat selama 40 tahun lalu pensiun kaya raya itu sudah lewat masanya.
Realita kerjanya adalah: Perusahaan akan memanfaatkan tenaga kamu semaksimal mungkin sampai ada opsi yang lebih murah atau canggih.
Maka, kamu juga harus melakukan hal yang sama:
- Jangan Baper: Kantor bukan keluarga. Hubungan kerja itu transaksional.
- Upgrade Skill: Ambil sertifikasi, ikut pelatihan yang dibayar kantor.
- Update LinkedIn & CV: Jangan tunggu dipecat baru update profil.
- Berani Ambil Resiko: Satu-satunya cara paling cepat naik gaji di Indonesia saat ini adalah dengan pindah kerja (move out to move up).
Ingat, loyalitas itu mahal harganya, dan sayangnya, banyak perusahaan yang nggak sanggup bayar itu lagi. Fokuslah pada karirmu sendiri, bukan pada meja kerjamu saat ini.
1 thought on “7 Rekomendasi Buku Stoisisme Terbaik untuk Hidup Lebih Tenang”