Sebagai manajer atau pemimpin bisnis, tidak jarang muncul rasa frustrasi saat meninjau laporan akhir bulan. Tim penjualan tampak sibuk setiap hari, namun target yang telah ditetapkan tetap tidak tercapai.
Mungkin dalam pikiran pertama yang muncul adalah, “Apa mereka kurang kerja keras? Apa mereka malas?”
Tunggu dulu. Sebelum kamu memarahi tim atau merombak personel, kita perlu melihat realita yang terjadi di lapangan saat ini. Dunia kerja di Indonesia, khususnya di bidang penjualan, sudah berubah total dalam 24 bulan terakhir. Kebiasaan Work From Home (WFH) dan sistem hybrid dan kebiasaan belanja online telah mengubah peta permainan.
Sering kali, target yang tidak tercapai bukan karena tim penjualan kurang bergerak. Aktivitas ada, kesibukan terlihat. Namun masalah sesungguhnya justru terletak pada fondasi yang luput diperhatikan—cara kerja, arah, dan pemahaman yang sejak awal tidak benar-benar dibangun dengan kokoh.
Mari kita bedah kemungkinan 5 penyebab mengapa target penjualan tim kamu sering meleset, dan apa yang harus kamu perbaiki.
1. Strategi Lama di Tengah Tantangan Penjualan Modern
Coba perhatikan cara tim kamu bekerja. Apakah mereka masih mengandalkan teknik lama seperti cold calling ke nomor telepon kantor ?
Dulu, cara ini mungkin efektif. Tapi sekarang? Di era kerja fleksibel ini, menelepon ke meja kantor seringkali sia-sia karena prospeknya sedang bekerja dari rumah, di coffee shop, atau di ruang kerja bersama (coworking space).
Banyak tenaga penjualan senior yang dulu dikenal sebagai “bintang” justru mengalami penurunan performa. Bukan karena mereka kehilangan etos kerja, melainkan karena kehilangan pegangan. Metode yang selama bertahun-tahun menjadi andalan mendadak tidak lagi relevan, sementara penggantinya belum benar-benar dipahami.
Masalah ini bukan soal kemalasan. Ini tentang cara kerja yang sudah usang—metode yang dulu efektif, tetapi kini tidak lagi mampu menjawab perubahan perilaku pasar dan pelanggan.
2. Akar Masalahnya: Aktivitas Tanpa Strategi yang Jelas
Ini adalah dosa terbesar dalam manajemen penjualan. Banyak tim sales gagal bukan karena kurang aktivitas, tapi karena tidak punya strategi yang koheren (terarah).
Seringkali kita merekrut sales hebat, lalu membiarkan mereka “jalan sendiri” dengan harapan mereka tahu apa yang harus dilakukan. Akibatnya? Mereka bergerak secara acak.
Contoh paling nyata bisa kita lihat di LinkedIn atau media sosial. Banyak sales yang mengaku melakukan social selling, tapi prakteknya hanya asal add friend, kirim pesan copy-paste ke ratusan orang, lalu berharap ada yang nyangkut. Itu bukan strategi, itu spekulasi yang mengandalkan keberuntungan. Tanpa peta jalan yang jelas dari atasan, energi tim akan habis untuk hal-hal yang tidak berdampak pada penjualan.
3. Unggul di Tatap Muka, Tertinggal di Dunia Digital
Di Indonesia, kita kenal istilah “jago lobi”. Banyak sales yang sangat piawai saat bertemu tatap muka—mereka luwes, enak diajak ngobrol, dan persuasif.
Namun, kemampuan itu tidak otomatis bisa ditransfer ke dunia digital. Menulis pesan penawaran lewat email, WhatsApp, atau LinkedIn butuh skill yang berbeda. Di layar HP, bahasa tubuh dan senyuman tidak terlihat.
Akibatnya, banyak sales yang aslinya luwes, malah terdengar kaku seperti robot saat mengirim pesan teks. Pesan mereka terasa dingin, terlalu formal, atau malah seperti spam. Ini tantangan besar transformasi digital: bagaimana membawa “karisma” personal ke dalam tulisan singkat di layar gadget.
4. Target yang Tidak Masuk Akal Membunuh Mental
Menurut Anda, apakah lebih baik menetapkan target yang sangat ambisius untuk memotivasi tim, atau memilih sasaran yang lebih realistis?
Hati-hati. Memberikan target yang terlalu tinggi dan mustahil dicapai justru bisa menjadi bumerang. Jika tim kamu tidak pernah merasakan “kemenangan kecil” setiap bulannya, mental mereka akan hancur.
Mereka akan merasa, “Ah, mau kerja sekeras apapun juga nggak bakal sampai target.” Perasaan selalu gagal ini sangat berbahaya bagi motivasi jangka panjang. Lingkungan sales yang sehat seharusnya membuat tim merasa tertantang dan berenergi, bukan merasa tertekan dan depresi setiap pagi. Target harus sedikit di atas kemampuan (menantang), tapi tetap masuk akal untuk dicapai.
5. Kantor Tanpa Kompetisi, Tim Tanpa Daya Dorong
Kita harus akui, bekerja dari rumah atau terpisah-pisah menghilangkan salah satu elemen kunci penjualan: Energi Kompetisi.
Di kantor sales , energi itu menular. Saat ada satu orang yang berhasil closing, lonceng berbunyi, atau tim bersorak, semangat itu menyebar ke meja sebelah secara organik. Ada dorongan alami untuk tidak mau kalah.
Saat bekerja sendirian di kamar kost atau rumah, ritme dan semangat itu seringkali meredup. Tidak ada teman di sebelah yang bisa menyemangati saat kita ditolak prospek. Ini menjadi PR besar bagi para manajer: bagaimana menjaga api semangat itu tetap menyala meskipun tim tidak duduk bersebelahan?
Fokus pada Strategi, Bukan Sekadar Kinerja Personal
Jika angka penjualan sedang merah, jangan buru-buru menyalahkan individu. Berhentilah sejenak dan evaluasi kembali fondasinya:
- Apakah kamu sudah memberikan strategi yang jelas, bukan cuma target angka?
- Apakah metode yang dipakai masih relevan dengan kondisi sekarang?
- Apakah tim sudah dilatih cara komunikasi digital yang luwes?
Pada akhirnya, strategi yang jelas adalah fondasi dari seluruh aktivitas. Tanpa arah yang tepat, seberapa pun sibuknya tim bekerja, semua itu mudah berubah menjadi sekadar kesibukan—bukan produktivitas yang benar-benar menghasilkan omzet.
1 thought on “Kenaikan UMR dan Dunia Sales Marketing: Antara Harapan dan Tekanan Baru”